Album Hijau 1992
Hijau
Iwan Fals (
Album Hijau 1992 )
Hutanku,
Rusak
!
Langitku,
Bocor
!
Udara
yang aku hisap,
Tercemar
!
Makanan
yang aku makan,
Racun
!
Hijau
Hijauku Hijau
Hijau
Hijau Dunia
Hijau
Hijauku Hijau
Hijau
Dunia
Hijau
Hijauku Hijau
Hijau
Dunia
Hijau
Hijauku Hijau
Hijau
Dunia
Hijau
Hutanku...
Rusak
!
Langitku...
Bocor
!
Udara
yang aku hisap...
Tercemar
!
Makanan
yang aku makan...
Racun
!
Hijau
Hijauku Hijau
Hijau
Hijau Dunia !
...
Hijau ...
(Iwan
Fals - Hijau - Album Hijau 1992)
Salah
siapa ? Apa yang salah ? Mengapa cari-cari kesalahan ?
Bukankah
sudah ada undang-undang ?
Tetapi
mengapa masih saja bisa dikalahkan dengan segepok uang ?
Lantas
kita semua yang menanggung akibatnya.
Sedangkan
mereka disana cukup menonton berita dari TV sambil makan kaviar.
Lagu Dua
Iwan Fals (
Album Hijau 1992 )
Jakarta
sudah habis
Musim
kemarau api
Musim
penghujan banjir
Jakarta
tidak bersahabat
Api
dan airnya bencana
Entah
karena kebodohan kecerobohan
Atau
keserakahan
Jakarta
sudah habis
Diatasnya
berdiri bangunan bangunan industri
Disekitar
bangunan bangunan itu
Bangunin
bangunin memproduksi belatung
Jakarta
sudah habis
Warna
tanahnya merah kecoklat coklatan
Mirip
dengan darah
Mirip
dengan api
Mirip
dengan air mata
Tanah
Jakarta sedang gelisah
Jangan
lagi dibuat marah
Tanah
Jakarta sedang gelisah
Jangan
lagi dibuat marah
Jakarta
sudah habis
Dijalan
jalan marah ( Dijalan )
Dijalan
marah marah
Dirumah
rumah marah ( Dirumah )
Dirumah
marah marah
Apa
enaknya ?
Jakarta
sudah habis
Empat
puluh persen rakyatnya
Beli
air dari PAM
Sisanya
gali sendiri
Persoalannya
gali pakai apa ?
Tentu
saja gali pakai duit
Duitnya
terbuat dari air mata asli
Jakarta
sudah habis
Sebentar
lagi kita akan menjual
Air
mata kita sendiri
Karena
air mata kita
Adalah
air kehidupan
Jakarta
sudah habis
Tetapi
Indonesia bukan hanya Jakarta
Jakarta
Jakarta
Cuma
enak buat cari duit
Nah
kalau duit sudah punya
Hijrah
saja
Hijrah
saja
Hijrah
saja
Hijrah
saja
Tanah
Jakarta sedang gelisah
Jangan
lagi dibuat marah
Tanah
Jakarta sedang gelisah
Jangan
lagi dibuat marah
Jakarta
Jakarta
Jakarta
Hijrah
saja
Jakarta
sudah habis
Musim
kemarau api
Musim
penghujan banjir
Jakarta
tidak bersahabat
Api
dan airnya bencana
Entah
karena kebodohan kecerobohan
Atau
keserakahan
Jakarta
sudah habis
Jakarta
sudah habis
Lagu Empat
Iwan Fals (
Album Hijau 1992 )
Kenapa
banyak orang ingin menang ?
Apakah
itu hasil akhir kehidupan ?
Kenapa
kekalahan menjadi aib ?
Apakah
itu kesalahan manusia ?
Demi
kemenangan rela membunuh
Demi
kemenangan rela memperkosa
Apa
saja akan kamu tempuh
Agar
kemenangan dapat diraihnya
Kenapa
kebenaran tak lagi dicari ?
Sudah
tak pentingkah bagi manusia ?
Apakah
kebenaran tinggal kata kata ?
Dari
bibir pemenang pemenang semu
Aku
menjadi lelah dan sangsi
Terhadap
kemenangan kemenangan itu
Biarlah
aku kalah asal tak memperkosa
Biar
saja aku tak menang
Asalkan
tak menginjak nuraninya
Aku
tidak ingin menang
Aku
hanya ingin benar
Walau
harus menggali sukma bumi
Merenangi
gelombang samudera
Aku
tidak ingin menang
Aku
hanya ingin benar
Walau
harus menggali sukma bumi
Merenangi
gelombang samudera
Lagu Enam
Iwan Fals (
Album Hijau 1992 )
Kemana
perginya mainanku ?
Mobil
mobilan dari kulit jeruk
Kuda
kudaan dari pelepah pisang
Entah
kemana perginya
Sekarang
sulit membedakan
Mana
mainan mana sungguhan
Semua
mahal
Semua
harus dibeli di toko toko penggoda hati
Minta
ampun harga mainan kini
Ada
yang seharga gaji menteri
Terbuat
dari plastik maupun besi
Hanya
untuk gengsi anak bayi
Tak
ada lagi bocah berkreasi
Semua
sudah tersedia
Mereka
menjadi cengeng dan manja
Kejernihan
otaknya pun sirna
Mana
mainanku yang dulu ?
Aku
ingin melihat bentuknya
Aku
ingin mengingat nama namanya
Yang
pernah akrab dengan kehidupan ini
Lagu Lima
Iwan Fals (
Album Hijau 1992 )
Anjing
hitam kepala dan kakinya kuning
Sendiri
tertidur
Luka
luka di punggungnya
Melebam
menunggu lalat
Anjing
hitam kepala dan kakinya kuning
Kawini
ibunya dan beranak lagi
Seperti
sebagian manusia
Seperti
sebagian manusia
Anjing
hitam anaknya hitam
Menunggu
seperti kita
Lukanya
yang melebam
Memberi
kesaksian bagi kehidupan
Kaki
depan kanannya pincang
Ditabrak
tank ketika latihan didepan
Kaki
depan kanannya pincang
Ditabrak
tank ketika latihan didepan
Kaki
depan kanannya pincang
Ditabrak
tank ketika latihan didepan
Kaki
depan kanannya pincang
Ditabrak
tank ketika latihan didepan
Anjingku
menggonggong
Protes
pada situasi
Hatiku
melolong
Protes
pada kamu
Anjingku
menggonggong
Protes
pada situasi
Hatiku
melolong
Protes
pada kamu
Anjingku
menggonggong
Hatiku
melolong
Anjingku
menggonggong
Anjingku
menggonggong
Anjingku
menggonggong
Anjingku
menggonggong
Anjingku
menggonggong
Anjingku
menggonggong
Lagu Satu
Iwan Fals (
Album Hijau 1992 )
Jalani
hidup
Tenang
tenang tenanglah seperti karang
Sebab
persoalan bagai gelombang
Tenanglang
tenang tenanglah sayang
Tek
pernah malas
Persoalan
yang datang hantam kita
Dan
kita tak mungkin untuk menghindar
Semuanya
sudah suratan
Oh
matahari
Masih
setia
Menyinari
rumah kita
Tak
kan berhenti
Tak
kan berhenti
Menghangati
hati kita
Sampai
tanah ini inginkan kita kembali
Sampai
kejenuhan mampu merobek robek hati ini
Sebentar
saja
Aku
pergi meninggalkan
Membelah
langit punguti bintang
Untuk
kita jadikan hiasan
Tenang
tenang tenanglah sayang
Semuanya
sudah suratan
Tenang
tenang seperti karang
Bintang
bintang jadikan hiasan
Berlomba
kita dengan sang waktu
Jenuhkah
kita jawab sang waktu
Bangkitlah
kita tunggu sang waktu
Tenanglah
kita menjawab waktu
Seperti
karang
Tenanglah
Seperti
karang
Tenanglah
Lagu Tiga
Iwan Fals (
Album Hijau 1992 )
Aku
tunggu kamu di tempat ini
Di
puncak bukit yang sepi dan dingin
Aku
percaya kamu pasti sampai
Rasa
dan akal sehatku mengatakan itu
Saudaraku
Singkatnya
hari yang kita punya
Begitu
banyak memberi makna
Sudah
saatnya aku kembali
Sudah
waktunya kamu mulai
Saudaraku
Disini
Aku
sendiri
Datanglah
Bukit
yang sepi
Bukit
yang dingin
Tak
kan membuatmu tersiksa
Saudaraku
Aku
percaya
Kita
harus mulai bekerja
Persoalan
begitu menantang
Satu
niat satulah darah kita
Kamu
adalah kamu
Aku
adalah aku
Kita
harus mulai bekerja
Persoalan
begitu menantang
Satu
niat satulah darah kita
Kamu
adalah kamu
Belum ada Komentar untuk "Album Hijau 1992"
Posting Komentar