Album Mata Dewa 1989
Air Mata Api
Iwan Fals (
Album Mata Dewa 1989 )
Aku
adalah lelaki tengah malam
Ayahku
harimau ibuku ular
Aku
dijuluki orang sisa sisa
Sebab
kerap merintih kerap menjerit
Temanku
gitar temanku lagu
Nyanyikan
tangis marah dan cinta
Temanku
niat temanku semangat
Yang
kian hari kian berkarat semakin berkarat
Aku
berjalan orang cibirkan mulut
Aku
bicara mereka tutup hidung
Aku
tersinggung peduli nilai nilai
Aku
datangi dengan segunung api
Mereka
lari ke ketiak ibunya
Ku
tak peduli marahku menjadi
Mereka
lari ke meja ayahnya
Aku
tak mampu tenagaku terkuras
Lelaki
tengah malam terkulai di tepi malam
Lelaki
tengah malam terkulai di tepi malam
Orang
sisa sisa menangis
Orang
sisa sisa menangis
Air
matanya
Air
matanya
Air
matanya
Api
Aku
berjalan orang cibirkan mulut
Aku
bicara mereka tutup hidung
Aku
tersinggung peduli nilai nilai
Aku
datangi dengan segunung api
Mereka
lari ke ketiak ibunya
Ku
tak peduli marahku menjadi
Mereka
lari ke meja ayahnya
Aku
tak mampu tenagaku habis terkuras
Lelaki
tengah malam terkulai di tepi malam
Lelaki
tengah malam terkulai di tepi malam
Orang
sisa sisa menangis
Orang
sisa sisa menangis
Air
matanya
Air
matanya
Air
matanya
Api
Air
matanya
Air
matanya
Air
matanya
Api
Berkacalah
Jakarta
Iwan Fals (
Album Sugali 1984 & Album Mata Dewa 1989 )
Langkahmu
cepat seperti terburu
Berlomba
dengan waktu
Apa
yang kau cari belumkah kau dapati
Diangkuh
gedung gedung tinggi
Riuh
pesta pora sahabat sejati
Yang
hampir selalu saja ada
Isyaratkan
enyahlah pribadi
Lari
kota Jakarta lupa kaki yang luka
Mengejek
langkah kura kura
Ingin
sesuatu tak ingat bebanmu
Atau
itu ulahmu kota
Ramaikan
mimpi indah penghuni
Jangan
kau paksakan untuk berlari
Angkuhmu
tak peduli
Luka
di kaki
Jangan
kau paksakan untuk tetap terus berlari
Bila
luka di kaki belum terobati
Berkacalah
Jakarta
Lari
kota Jakarta lupa kaki yang luka
Mengejek
langkah kura kura
Ingin
sesuatu tak ingat bebanmu
Atau
itu ulahmu kota
Ramaikan
mimpi indah penghuni
Jangan
kau paksakan untuk berlari
Angkuhmu
tak peduli
Luka
di kaki
Jangan
kau paksakan untuk tetap terus berlari
Bila
luka di kaki belum terobati
Berkacalah
Jakarta
Mata Dewa
Iwan Fals (
Album Mata Dewa 1989 )
Diatas
pasir senja pantai Kuta
Saat
kau rebah di bahu kiriku
Helai
rambutmu halangi khusukku
Nikmati
ramah mentari yang pulang
Seperti
mata dewa
Seperti
mata dewa
Seperti
mata dewa
Seperti
mata dewa
Aku
berdiri tinggalkan dirimu
Waktu
sinarnya jatuh di jiwaku
Gemuruh
ombak sadarkan sombongku
Ajaklah
aku wahai sang perkasa
Seperti
mata dewa
Seperti
mata dewa
Seperti
mata dewa
Seperti
mata dewa
Yang
menangis tinggalkan diriku
Yang
menangis lupakanlah aku
Yang
menangis tinggalkan diriku
Yang
menangis lupakanlah aku
Senja
di hati
Lidah
gelombang jilati batinku
Belaian
karang sampai kejantungku
Jingga
matahari ajak aku pergi
Kasihku
tulus setulus indahmu
Seperti
mata dewa
Seperti
mata dewa
Seperti
mata dewa
Seperti
mata dewa
Yang
menangis tinggalkan diriku
Yang
menangis lupakanlah aku
Yang
menangis tinggalkan diriku
Yang
menangis lupakanlah aku
Senja
di hati
Seperti
mata dewa
Seperti
mata dewa
Senja
di hati
Seperti
mata dewa
Senja
di hati
Seperti
mata dewa
Senja
di hati
Nona
Iwan Fals (
Album Mata Dewa 1989 )
Sudah
cukup jauh
Perjalanan
ini
Lewati
duka lewati tawa
Lewati
segala persoalan
Kucoba
berkaca
Pada
jejak yang ada
Ternyata
aku sudah tertinggal
Bahkan
jauh tertinggal
Bodohnya
diriku
Tak
percaya padamu
Lalu
sempat aku berfikir
Untuk
tinggalkan kamu
Nona
maafkan aku
Nona
peluklah aku
Nona
begitu perkasanya dirimu
Yakiniku
Nona
marahlah padaku
Nona
Nonaku
Aku
tak peduli
Apa
kata mereka
Hari
ini engkau disini
Esok
tetap disini
Nona
maafkan aku
Nona
peluklah aku
Nona
begitu perkasanya dirimu
Yakiniku
Nona
marahlah padaku
Nona
Nonaku
Nona
maafkan aku
Nona
nona nona nonaku
Nona
nona nona nonaku
P.H.K.
Iwan Fals (
Album Wakil Rakyat 1987 & Mata Dewa 1989 )
Lelaki
renta setengah baya
Geram
di trotoar jalan
Saat
panas tikam kepala
Seorang
buruh disingkirkan
Bising
mesin menyulut resah
Masih
bisa engkau pendam
Canda
anak istri dirumah
Bangkitkan
kau untuk bertahan
Oh
yaya Oh yaya Oh Yaa
Oh
yaya Oh yaya Oh Yaa
Pesangon
yang engkau kantongi
Tak
cukup redakan gundah
Tajam
pisau kepalan tangan
Antar
kau ke pintu penjara
Oh
yaya Oh yaya Oh Yaa
Oh
yaya Oh yaya Oh Yaa
Sedanau
nanah dari matamu
Tak
mampu jatuhkan hati mereka
Serimba
luka didalam jiwa
Juga
tak berarti
Hitam
benak kini mulai akrab
Hitam
benar isi hari harimu
Kau
tafakur dibalik jeruji pengap
Kau
menjerit coba melawan
Perempuan Malam
Iwan Fals (
Album Mata Dewa 1989 )
Perempuan
malam mandi di kali
Buih
buih busa sampo ketengan
Di
atas kepala lewat kereta
Yang
berjalan lamban nakal menggoda
Disambut
tawa renyah memecah langit
Dengus
kereta semakin hening
Semua
noda coba dibersihkan
Namun
masih saja terlihat kotor
Karena
kereta kirimkan debu
Yang
datang tak mampu ia tepiskan
Perempuan
malam kenakan handuknya
Setelah
usap seluruh tubuhnya
Hangatkan
tubuh di cerah pagi
Pada
matahari
Keringkan
hati yang penuh tangis
Walau
hanya sesaat
Segelas
kopi sebatang rokok
Segurat
catatan yang tersimpan
Perempuan
malam menunggu malam
Untuk
panjangnya malam
Perempuan
malam diikat tali
Di
hidup di mimpi di hatinya
Aku
hanya lihat dari jembatan
Tanpa
mampu untuk melepaskan
Perempuan
malam dipinggir jerami
Nyanyikan
doa nyalakan api
Perempuan
malam dipinggir jerami
Nyanyikan
doa nyalakan api
Pinggiran Kota
Besar
Iwan Fals (
Album Mata Dewa 1989 )
Pinggiran
kota besar
Nafasmu
makin bingar
Kudengar
dari sini
Bagai
nyanyiannya oh
Cerobong
asap pabrik
Berlomba
ludahi langit
Barisan
mobil besar
Gelisah
angkut barang
Ada
kabar engkau tuli
Pinggiran
kota besar
Kulihat
tidur mendengkur
Diranjang
banyak orang
Peduli
kau bermimpi
Selagi
cukup nyenyak
Asiknya
buang kotoran
Lukai
hari kami
Cemari
hati ini
Ada
kabar engkau buta
Sungai
kotor bau dan beracun
Penuh
limbah kimia
Kita
mandi mencuci disana
Lihatlah
lihatlah
Ikan
ikan pergi atau mati
Tak
kulihat yang pasti
Kau
yang tidur bangunlah segera
Lihatlah
lihatlah
Telanjang
anak kecil
Berenang
disungai kotor
Tertawa
riang bercanda
Sambil
menggaruk koreng
Pinggiran
kota besar
Merasa
tidur terganggu
Beranjak
dari ranjang
Tutup
pintu jendela
Nutup
pintu jendela
Sungai
kotor bau dan beracun
Penuh
limbah kimia
Kita
mandi mencuci disana
Lihatlah
lihatlah
Ikan
ikan pergi atau mati
Tak
kulihat yang pasti
Kau
yang tidur bangunlah segera
Lihatlah
lihatlah
Hitam
kaliku
Hitam
legam hatiku
Legam
hariku
Legam
hitam kaliku
Puing II
Iwan Fals (
Album Sumbang 1983 & Mata Dewa 1989 )
Perang
perang lagi
Semakin
menjadi
Berita
ini hari
Berita
jerit pengungsi
Lidah
anjing kerempeng
Berdecak
keras beringas
Melihat
tulang belulang
Serdadu
boneka yang malang
Tuan
tolonglah tuan
Perang
dihentikan
Lihatlah
ditanah yang basah
Air
mata bercampur darah
Bosankah
telinga tuan
Mendengar
teriak dendam
Jemukah
hidung tuan
Mencium
amis jantung korban
Jejak
kaki para pengungsi
Bercengkrama
dengan derita
Jejak
kaki para pengungsi
Bercerita
pada penguasa
(
Bercerita pada penguasa )
Tentang
ternaknya yang mati
Tentang
temannya yang mati
Tentang
adiknya yang mati
Tentang
abangnya yang mati
Tentang
ayahnya yang mati
Tentang
anaknya yang mati
Tentang
neneknya yang mati
Tentang
pacarnya yang mati
(
Tentang ibunya yang mati )
Tentang
istrinya yang mati
Tentang
harapannya yang mati
Perang
perang lagi
Mungkinkah
berhenti
Bila
setiap negara
Berlomba
dekap senjata
Dengan
nafsu yang makin menggila
Nuklir
pun tercipta
(
nuklir bagai dewa )
Tampaknya
sang jenderal bangga
Dimimbar
dia berkata
Untuk
perdamaian (bohong)
Demi
perdamaian (bohong)
Guna
perdamaian (bohong)
Dalih
perdamaian (bohong)
Mana
mungkin
Bisa
terwujudkan
Semua
hanya alasan
Semua
hanya bohong besar
Timur Tengah II
/ Bakar
Iwan Fals (
Album Aku Sayang Kamu 1986 & Mata Dewa 1989 )
Tuhan
tolong dengarkan
Nyanyian
pinggir jalan
Malam
dibawah bulan
Dalam
waktu yang rawan
Marah
dibawah tanah
Dilangit
ada merah
Menuju
satu arah
Bakar
bakar
Disana
ada bohong
Disana
ada mayat
Disana
ada suara
Bom
bom
Raut
muka resah
Orang
orang susah
Ada
banyak mata
Buta
Resah
luka kaki
Semakin
menjadi
Ada
banyak kuping (telinga)
Tuli
Malam
hampir pagi
Debu
jalan datang lagi
Malam
hampir pagi
Bising
mesin bunyi lagi
Malam
hampir pagi
Kelicikan
mulai lagi
Malam
hampir pagi
Teriakku
hilang lagi
Yang Terlupakan
Karya : Iwan
Fals ( Album Sarjana Muda 1981 & Album Mata Dewa 1989 )
Denting
piano kala jemari menari
Nada
merambat pelan dikesunyian malam
Saat
datang rintik hujan bersama sebuah bayang
Yang
pernah terlupakan
Hati
kecil berbisik untuk kembali padanya
Seribu
kata menggoda seribu sesal didepan mata
Seperti
menjelma waktu aku tertawa
Kala
memberimu dosa
Oh
maafkanlah
Oh
maafkanlah
Rasa
sesal didasar hati diam tak mau pergi
Haruskah
aku lari dari kenyataan ini
Pernah
ku mencoba tuk sembunyi
Namun
senyummu tetap mengikuti
lirik lagu Iwan Fals Album Mata Dewa 1989
lirik lagu Iwan Fals Album Mata Dewa 1989
Belum ada Komentar untuk "Album Mata Dewa 1989"
Posting Komentar